Kabar ini merupakan perenungan serta MOTIVASI bagi manusia semua sebab di zaman multi dimensional seperti sekarang ini dimana Negara-negara yang memiliki rakyat/masyarakat apalagi mayoritas Muslim sedang mengalami pemerosotan Moral dan Aqidah islamnya, ternyata masih ada Negara dimuka bumi ini yang memiliki Pemerintahan yang teguh dan tegas serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam yang dianutnya.
Contohnya adalah IRAN . di IRAN orang yang berbusana SERONOK, gaya rambut barat,atau bersepatu boot tinggi akan ditangkap oleh polisi, langkah langkah ini merupakan gebrakan bukan hanya berkampaye dengan mulut atau berdemonstrasi dijalan saja, langkah ini merupakan aktualisasi menjaga dan peradapan budaya IRAN terutama budaya islami terhadap budaya kebarat-baratan.
Beberapa analis negara itu mengatakan pihak berwenang khawatir tindakan penyimpangan secara terbuka seperti itu terhadap budaya Iran bisa meningkat andai kata tidak dikendalikan. apalagi musuh-musuh negara itu telah mencoba mengalihkan perhatian PEMUDA dan meracuni mereka dengan berprilaku non Iran.
Sekarang bagaimana dengan Negara kita bukankah dinegara kita muslimnya mayoritas??
Read the rest of this entry ?
Archive for the ‘Islam Artikle’ Category

“PENANGKAPAN BERPAKAIAN SERONOK”
15UTCp31UTC08bUTCWed, 19 Aug 2009 20:02:15 +0000 5,2007
Dari Samiri sampai Ponari
28UTCp31UTC03bUTCTue, 24 Mar 2009 18:58:28 +0000 5,2007Oleh: Dr Ahmad Hatta *
Sebelum orang mengenal nama dukun Ponari, Al-Quran juga mendokumentasikan orang serupa. Namanya juga agak mirip, Samiri
Hidayatullah.com–Nama Ponari tiba-tiba melesat bak meteor. Popularitasnya menyaingi selebritis, bahkan elit politik yang akan bersaing dalam pemilu 2009. Puluhan ribu orang berduyun-duyun mendatangi rumahnya di Jombang. Hampir tak ada media massa yang tidak memberitakan Ponari. Ini terjadi hanya karena ia memiliki batu yang dianggap sakti: bisa memudahkan urusan dan menyembuhkan penyakit. Tapi tahukah Anda, di masa lalu, ada orang yang jauh lebih sakti dari Ponari dan batunya?
Orang tersebut mampu mengubah 180 derajat kaum Bani Israil di Syam (Palestina), hanya dalam beberapa hari: dari beriman kepada Allah menjadi penyembah patung anak sapi yang bersuara. Hal itu membuat marah Musa as. (QS. 20: 86). Bagaimana tidak, kejadian itu berlangsung saat dirinya sedang dipanggil Allah ke Bukit Sinai (Thur) untuk menerima wahyu. Sebelum pergi, Nabi Musa as. sudah berpesan kepada kaumnya agar tetap beriman kepada Allah.
Nabi Musa as perlu mewasiatkan itu karena ia dan kaumnya telah diberi nikmat luar biasa oleh Allah. Setelah lolos dari kejaran Fir’aun dan pasukannya dengan membelah Laut Merah, Nabi Musa as dan kaumnya menetap di Syam. Sejak tinggal di Syam inilah, Nabi Musa dan pengikutnya mendapatkan banyak kenikmatan dari Allah. Tanah Syam diberikan keberkahan. Kaum Bani Israil mendapatkan al manna wa salwa, makanan berupa burung dan manisan semanis madu dari bumi Syam. Namun, kenikmatan itu ternyata tak membuat mereka tetap beriman kepada Allah karena ulah seseorang.
Read the rest of this entry ?

SAYA SHOLAT LIMA WAKTU TAPI..
02UTCp28UTC02bUTCWed, 25 Feb 2009 16:11:02 +0000 5,2007Saya Sholat lima waktu tapi……
Ingat pada Allah hanya lima waktu itu saja
Dan pada masa lainnya saya lupa pada Nya
Jika Sholat saya 10 menit , maka cuma 10 menit itu saja ingat pada Nya
Mungkin dalam 10 menit itu pun saya masih ingat selain daripada Nya.
Saya Sholat lima waktu tapi….

apa dan siapa itu ulama?
24UTCp31UTC03bUTCMon, 17 Mar 2008 01:34:24 +0000 5,2007Banyak pertanyaan sederhana mengenai apa dan siapa itu ulama? Benarkah ada ulama jahat dalam Islam. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan..
Kata ‘ulamâ’ (bentuk plural dari ‘âlim), secara bahasa artinya orang yang
berpengetahuan, ahli ilmu. Kata sû’ adalah mashdar dari
sâ’a–yasû’u–saw’an; artinya jelek, buruk atau jahat. Dengan demikian,
al-‘ulamâ’ as-sû’ secara bahasa artinya orang berpengetahuan atau ahli ilmu
yang buruk dan jahat. Rasul saw. bersabda:
«أَلاَ إِنَّ شَرَّ الشَّرِّ شِرَارُ
الْعُلَمَاءِ وَإِنَّ خَيْرَ الْخَيْرِ
خِيَارُ الْعُلَمَاءِ»
Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan
adalah kebaikan ulama. (HR ad-Darimi).
Peran ulama menentukan kebaikan dan keburukan masyarakat. Ad-Darimi menuturkan,
ketika Said bin Jubair ditanya tentang tanda-tanda kebinasaan masyarakat, ia
menjawab, “Jika ulama mereka telah rusak.“
Abu Muslim al-Khaulani mengatakan, bahwa ulama itu tiga macam. Pertama: seseorang
yang hidup dalam ilmunya dan orang lain hidup bersamanya dalam ilmunya itu. Kedua:…